STUDI KASUS 2 PERANCANGAN DATABASE

PENGARUH DESAIN TERHADAP PENERAPAN EFEKTIFITAS

DATABASE MELALUI BEBERAPA CONTOH KASUS

ABSTRAK: Dalam suatu sistem informasi, landasan yang utama adalah database dan implementasi

prgoram. Database yang tidak efektif dan implementasi program yang tidak terstruktur dapat

mempengaruhi performansi sistem informasi tersebut. Pengaruh desain terhadap database sangatlah besar,

termasuk desain data, tipe data maupun relasinya. Pembuatan desain yang tidak dibangun dengan cermat

dapat menyebabkan hilangnya data yang dibutuhkan, data yang tidak konsisten, redundansi data, proses

update yang lambat dan banyak hal lain. Untuk menghindari hal tersebut, dibuatlah beberapa contoh kasus

yang dapat menunjukkan betapa pentingnya desain sebelum pembuatan database yaitu pembuatan logical

data model. Dari contoh kasus yang diberikan, dapat dilihat bahwa desain mempengaruhi database yang

akan dibentuk.

Kata kunci: database, logical data model.

ABSTRACT: The main foundation of information system is database and programming. Inefficient

database and unstructured programming can influence information system performance. Database design

is very important, including the data design, data domain and relationship. Unstable design can cause data

lost, inconsistent data, redundancy data, slow data updating and many more. A some presented in this

paper study cases here show how important the step of design before the step of making database, which is

called the design of logical data model. From these study cases here, we can see that design will influence

the database.

Keywords: database, logical data model.


PENDAHULUAN

Salah satu langkah dalam membangun suatu

sistem informasi adalah melakukan perancangan

database. Database merupakan jantung dari sistem

informasi. Data harus tersedia ketika user ingin

menggunakan, data juga harus akurat dan konsisten.

Selain dari requirement tersebut, tujuan dari desain

database adalah efisiensi penyimpanan data dan

efisiensi pembacaan maupun update data.

Database merupakan suatu koleksi data.

Efektifitas dari database harus dapat memenuhi

kebutuhan

(1) memastikan data agar dapat diakses

oleh banyak user pada banyak aplikasi,

(2) maintain data secara akurat dan konsisten, (3) memastikan data yang dibutuhkan baik sekarang maupun yang akan

datang dapat tersedia,

(4) database dapat memenuhi

kebutuhan sesuai dengan pertumbuhan user dan (5)database dapat memenuhi kebutuhan pembacaan data tanpa memperdulikan bagaimana data secarafisik tersimpan [4].

Dari pengamatan yang dilakukan penulis, masih

ada beberapa orang yang memiliki tidak mempertimbangkan

efektifitas dalam mendesain database.

Untuk menjelaskan lebih lanjut pentingnya efektifitas database, dibuatlah beberapa contoh kasus dalam desain logical data model.

 

LOGICAL DATA MODEL

Logical data model merupakan pemodelan dari

proses bisnis yang berfokus pada analisis data.

Logical data model dibangun oleh tiga notasi yaitu entiti, atribut dan relasi. Entiti adalah tempat, obyek, kejadian maupun konsep pada lingkungan user dimana diperlukan maintain data pada organisasi tersebut. Atribut adalah karakteristik yang dimiliki tiap entiti. Relasi adalah hubungan asosiasi data antar

entiti.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam

pembuatan logical data model menurut Moss Larissa

[2]:

a. Memeriksa definisi, semantik dan tipe data pada tiap entiti untuk mencari duplikasi obyek bisnis karena dapat tidak terlihat apabila nama yang digunakan berbeda.

b. Memastikan tiap data pada entiti bahwa hanya

memiliki satu pengenal yang unik (primary key),

dimana termasuk apabila ada data lama yang

dihapus dari database.

 

c. Menggunakan aturan normalisasi untuk memastikan bahwa sebuah atribut hanya dimiliki oleh satu entiti saja.

d. Mengadopsi aturan bisnis dengan obyek pada

dunia nyata. Aturan bisnis ini memperlihatkan

relasi data antar entiti.

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam

pembuatan logical data model menurut Elmasri

Ramez [1]:

a. Semantic atribut

Bagaimana menggambarkan relasi yang dapat

menggambarkan fakta yang ada.

b. Memperkecil terjadinya data redundansi

Tujuan dalam pembuatan database adalah mengoptimalkan penyimpanan data.

c. Memperkecil terjadinya nilai null pada data

Null value dapat menyebabkan penyimpanan data yang besar dan dapat terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan suatu atribut. Null value dapat diinterpretasikan sebagai: (1) atribut ini tidak dimiliki oleh data tersebut, (2) nilai atribut tidak diketahui dan (3) nilai atribut diketahui tetapi belum dicatat.

d. Tiap entiti memiliki definisi/semantik yang jelas.

 

PENERAPAN LOGICAL DATA MODEL

DALAM CONTOH KASUS

Contoh kasus digambar menggunakan notasi

chicken feet dengan tools Power Designer 6.1.

Contoh kasus 1

Gambar 1 menunjukkan relasi kepala departemen antara entiti Pegawai dengan Departemen adalah

1 : 1 yang berarti satu orang pegawai hanya dapat mengepalai satu departemen dan satu departemen hanya boleh dikepalai oleh satu orang pegawai.

Dilihat dari kenyataan yang terjadi, relasi tersebut adalah benar karena tidak mungkin pada satu waktu, ada lebih dari satu pegawai yang mengepalai suatu departemen dan begitu pula sebaliknya.

 

bekerja pada

kepala departemen

Pegawai

NIP Pegawai

Nama Pegawai

Departemen

Kode Departemen

Nama Departemen

Gambar 1. Relasi entiti Pegawai dan entiti

Departemen

Namun ternyata ketika terjadi pergantian kepala

departemen, data kepala departemen yang lama

sudah tidak dapat lagi diketahui. Dengan kata lain, database tidak menyediakan penyimpanan data masa lampau. Oleh karena itu, desain gambar 1 ditambahkan suatu entiti yang mencatat tanggal seorang pegawai menjabat suatu departemen, sehingga dapat ditelusuri siapa saja yang pernah menjabat menjadi

kepala departemen suatu departemen

 (gambar 2).

 

kepala departemen departemen

bekerja pada

Pegawai

NIP Pegawai

Nama Pegawai

Departemen

Kode Departemen

Nama Departemen

History Kepala Departemen

Tanggal Menjabat

 

Gambar 2. Penambahan entiti History Kepala Departemen

 

Apabila ruang lingkup ditambah dengan pencatatan setiap jabatan yang dipegang selama seorang pegawai, maka gambar 2 harus diubah lagi dengan memasukkan informasi pilihan jabatan yang mungkin dijabat seorang pegawai selain kepala departemen.

Sebagai seorang pegawai pasti mempunyai sebuah jabatan, sehingga dari entiti history jabatan dapat diketahui departemen yang saat itu menaunginya. Oleh karena itu, relasi antara entiti Pegawai dengan entiti Departemen dapat dihilangkan.

 

jabatan

menjabat departemen

Pegawai

NIP Pegawai

Nama Pegawai

Departemen

Kode Departemen

Nama Departemen

History Jabatan

Tanggal Menjabat

Jenis Jabatan

Kode Jabatan

Jabatan

 

Gambar 3. Perubahan entiti History Jabatan

 

Moss poin (d) dan Elmasri poin (a) menyatakan

bahwa pembuatan model harus disesuaikan dengan

fakta. Contoh kasus 1 memperlihatkan bahwa dalam melakukan desain perlu memastikan data apa saja yang dibutuhkan baik sekarang maupun yang akan datang dapat tersedia. Pada gambar 1 terdapat permasalahan yaitu tidak menyediakan penyimpanan data masa lampau. Kemudian yang kedua adalah apakah database dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan pertumbuhan user sebagaimana yang digambarkan pada gambar 3 yaitu bahwa jenis jabatan dapat semakin beragam, oleh karena itu dibuat sebuah entiti tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.